Industri Kreatif Naik Tiga Kali Lipat

JAKARTA, KOMPAS.com — Nilai ekonomi industri kreatif mengalami kenaikan tiga kali lipat selama tahun 2006 hingga 2010.

“Nilai tambah atau nilai ekonomi (industri kreatif) Rp 157 triliun pada tahun 2006 menjadi Rp 468 triliun pada 2010,” ujar Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu pada pembukaan Konvensi Pekan Produk Kreatif Indonesia (PPKI) 2011 hari Rabu (6/7/2011) di Jakarta Convention Center, Jakarta.

Mari menambahkan, kontribusi terhadap produk domestik bruto nasional pada 2006, saat industri ini dimulai, sebesar 7,4 persen. “Sekarang 7,74 persen (pada 2010). Jadi, ada kenaikan dan sesuai target (kementerian),” ujarnya. Padahal, target pemerintah sesuai dengan cetak biru sebesar 7-8 persen.

Nilai ekspor industri kreatif juga naik dari 85 miliar dollar menjadi 131 miliar dollar AS. “Dan ini belum menghitung, yang enggak bisa dihitung, seperti jasa-jasa,” ujarnya.

Sektor mana saja dalam industri kreatif yang pertumbuhannya pesat? Penerbitan dan percetakan mengalami pertumbuhan nilai tambah yang paling tinggi dengan 17,5 persen.

“Fashion untuk penyerapan tenaga kerja pertumbuhannya paling tinggi (sebesar) 52 persen,” sebutnya. Adapun sumbangan fashion terhadap ekspor sebesar 55 persen.

Sementara itu, tingkat partisipasi tenaga kerja di sektor periklanan dan arsitektur sebesar 17 persen.

Adapun sektor yang mengalami pertumbuhan ekspor yang tinggi adalah industri film, video, dan fotografi yang mencapai 104 persen.

View the original article here

Asumsi Harga Minyak Diusulkan Naik

JAKARTA, KOMPAS.com — Kementerian Keuangan mengusulkan asumsi harga minyak mentah Indonesia menjadi 95 dollar AS barrel per hari pada APBN. Sebelumnya, asumsi harga minyak hanya sebesar 80 dollar AS bph.

“Rata-rata harga minyak mentah Indonesia (ICP) dari Januari sampai Juni 2011 itu sudah pada posisi 111 dollar AS per barrel. Lebih tinggi dari asumsi APBN 2011 sebesar 80 dollar AS per barrel,” ujar Wakil Menteri Keuangan Anny Ratnawati dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI terkait perubahan APBN, di Jakarta, Rabu (6/7/2011).

 Dengan rata-rata tersebut, Kementerian Keuangan pun mengusulkan revisi asumsi harga minyak. “Menimbang dengan hasil atau proyeksi rata-rata harga minyak dunia ke depan dan juga memperhatikan data terakhir, kami mengusulkan revisi ke atas dari harga minyak menjadi rata-rata 95 dollar AS,” ujarnya.

Hal ini dilakukan untuk lebih mendekatkan kepada angka realisasi minyak yang terjadi pada akhir-akhir ini.

View the original article here

Mari Elka Dorong “Creativepreneur”

KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu (tengah) melihat produk sepatu buatan Indonesia yang dipamerkan di Gedung I Kementerian Perdagangan RI, Rabu (9/3/2011). Pameran ini merupakan bagian dari rangkaian acara pencanganan Hari Pakai Sepatu Indonesia. Program ini akan dilakukan setiap Jumat dan dimulai dari lingkungan Kementerian Perdagangan.

JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu membuka Konvensi Pekan Produk Kreatif Indonesia 2011 hari Rabu (6/7/2011) di Jakarta Convention Center, Jakarta. Pada PPKI tahun ini, Mari berperan sebagai Ketua Bidang Konvensi.

Konvensi Pekan Produk Kreatif Indonesia (PPKI) yang diselenggarakan selama 6-9 Juli bertujuan untuk mengolaborasikan semua elemen ekonomi kreatif, di antaranya para pelaku usaha kreatif, komunitas kreatif, industri pengguna jasa dan produk kreatif, hingga lembaga keuangan.

“Melalui konvensi ini, pemerintah ingin mendorong para creativepreneur untuk dapat tumbuh kembang menjadi sosok yang kreatif dan mandiri,” ujar Mari di Jakarta, Rabu.

Dengan bertemakan “Kolaborasi Kreatif Menuju Indonesia Mandiri,” PPKI ke-5 ini akan dikelompokkan menjadi seminar dan gathering, pengembangan creativepreneur, diskusi creativedictive, dan area dukungan kreatif.

Konvensi akan difokuskan pada penciptaan creativepreneur dan jaringan kreatif. Tahun ini, Kementerian Perdagangan menargetkan jumlah peserta konvensi sebanyak 6.000 orang.

View the original article here

2012, Subsidi Energi Rp 180 Triliun

JAKARTA, KOMPAS.com — Subsidi energi, di antaranya listrik dan bahan bakar minyak (BBM), mencapai 15-18 persen dari total realisasi APBN selama lima tahun terakhir. Bahkan, tahun depan, diperkirakan subsidi energi dapat mencapai lebih dari Rp 180 triliun. Tahun ini, anggaran subsidi BBM, liquid petroleum gas (LPG), dan listrik mencapai Rp 137 triliun. Angka tersebut diperkirakan akan naik Rp 160-170 triliun.

“(Kenaikan anggaran) akibat kenaikan harga minyak mentah di pasar internasional yang sudah melebihi asumsi APBN 2011 dan kenaikan volume BBM bersubsidi. Ditambah lagi dengan kenaikan konsumsi BBM untuk pembangkit listrik akibat terlambatnya program percepatan PLTU 10.000 megawatt,” ujar Fabby Tumiwa, Executive Director Institute for Essential Services Reform (IESR) di Jakarta, Selasa (5/7/2011).

Fabby pun menyebutkan, anggaran subsidi energi ini dapat mencapai lebih dari Rp 180 triliun pada 2012. Oleh sebab itu, ia menyarankan agar pemerintah segera melakukan reformasi pemberian subsidi energi. Subsidi ini semakin tinggi seiring dengan kenaikan konsumsi dan harga energi di Indonesia.

“Reformasi tersebut dapat dilakukan melalui rasionalisasi dan penetapan target penerima manfaat subsidi yang lebih ketat dan dukungan kebijakan mitigasi untuk mengantisipasi dampak dari reformasi subsidi energi tersebut,” tuturnya.

Hal ini mengingat penerima manfaat subsidi BBM yang terbesar justru dinikmati oleh kelompok masyarakat yang mengonsumsi BBM dalam jumlah banyak. Masyarakat tersebut adalah mereka yang berpenghasilan tinggi.

“Fakta ini menyalahi tujuan awal adanya kebijakan subsidi BBM dan listrik,” sebutnya.

Pada akhirnya, lanjut dia, kebijakan yang salah sasaran ini berakibat pada naiknya resiko fiskal APBN.

View the original article here

Defisit Membengkak pada 2011

JAKARTA, KOMPAS.com — Kementerian Keuangan memperkirakan pada akhir tahun 2011 realisasi defisit APBN 2011 melonjak dari 1,8 persen terhadap produk domestik bruto menjadi 2,1 persen terhadap PDB. Ini disebabkan oleh lonjakan belanja subsidi bahan bakar minyak yang juga disertai kenaikan anggaran pendidikan.

“Kami melihat penyerapan kita itu sebetulnya tidak begitu menggembirakan selama lima tahun terakhir. Jadi tentu kami berupaya supaya penyerapan itu lebih baik. Kalau tahun ini sampai Juni 2011, kami melihat penerimaan lebih baik daripada tahun lalu. Lalu pengeluaran lebih baik dari tahun lalu,” ujar Menteri Keuangan Agus Darmawan Wintarto Martowardojo di Jakarta, Selasa (5/7/2011).

Menurut Agus, meskipun defisit APBN membengkak, pihaknya tidak berniat menambah utang. Defisit justru akan ditutup dengan mengambil uang tabungan pemerintah atau yang disebut Sisa Anggaran Lebih (SAL).

“Prognosis APBN semester II akan menunjukkan defisit Rp 187,9 triliun sehingga APBN Perubahan 2011 diperkirakan akan menunjukkan defisit anggaran Rp 151,1 triliun atau 2,1 persen,” ujarnya.

Total SAL yang akan digunakan untuk menutup defisit adalah Rp 39,1 triliun. Itu dimungkinkan karena hingga akhir tahun 2010 nilai SAL masih tercatat Rp 98,909 triliun.

SAL tersebut berasal dari penjumlahan SAL hingga akhir tahun 2009 senilai Rp 6,523 triliun, ditambah Sisa Lebih Penggunaan Anggaran (Silpa) Rp 44,7 triliun; ditambah selisih kas lebih tahun 2009 senilai Rp 261,781 miliar; ditambah koreksi atas SAL dan Silpa Rp 4,765 triliun.

Seluruhnya itu kemudian dikurangi SAL yang sudah digunakan selama tahun 2010 sebesar Rp 17,347 triliun sehingga total SAL yang tersisa per 1 Januari 2011 adalah Rp 98,9 triliun.

View the original article here

Harga Telur Naik Lagi

JAKARTA, KOMPAS.com — Berdasarkan pantauan Kementerian Perdagangan, kenaikan harga tertinggi terjadi pada telur ayam ras. Harga rata-rata nasionalnya pada bulan Juli tercatat Rp 17.550 per kilogram, sementara pada Mei Rp 15.862 per kg. Kenaikan tinggi juga terjadi pada bawang merah. Pada bulan Mei harganya Rp 18.401 per kg, sementara pada Juli naik menjadi Rp 20.895 per kg. Tren kenaikan harga juga terjadi pada beras, cabe merah keriting, dan kacang tanah. Harga rata-rata nasional beras kualitas medium bulan Juli tercatat Rp 7.208 per kg, atau naik Rp 168 dibandingkan harga bulan Mei. Stok beras di Pasar Induk Beras Cipinang per 3 Juli mencapai 21.242 ton. Dibandingkan stok pada periode sama tahun 2010, maka stok saat ini turun 31,16 persen. Direktur Bahan Pokok dan Barang Strategis Direktorat Perdagangan Dalam Negeri, Kemendag, Retno Rukmawati, di Jakarta, Selasa (5/7/2011), mengatakan, kenaikan harga telur dan daging ayam dipengaruhi peralihan musim yang menimbulkan kematian dalam jumlah relatif besar. Kematian tersebut membuat produksi telur berkurang. Hal sama juga terjadi pada bawang merah. Panen raya di sentra utama Brebes, katanya, mundur sehingga pasokan terganggu.

sumber: http://www.kompas.com

  • Calendar

    • August 2017
      M T W T F S S
      « Jul    
       123456
      78910111213
      14151617181920
      21222324252627
      28293031  
  • Search