Defisit Membengkak pada 2011

JAKARTA, KOMPAS.com — Kementerian Keuangan memperkirakan pada akhir tahun 2011 realisasi defisit APBN 2011 melonjak dari 1,8 persen terhadap produk domestik bruto menjadi 2,1 persen terhadap PDB. Ini disebabkan oleh lonjakan belanja subsidi bahan bakar minyak yang juga disertai kenaikan anggaran pendidikan.

“Kami melihat penyerapan kita itu sebetulnya tidak begitu menggembirakan selama lima tahun terakhir. Jadi tentu kami berupaya supaya penyerapan itu lebih baik. Kalau tahun ini sampai Juni 2011, kami melihat penerimaan lebih baik daripada tahun lalu. Lalu pengeluaran lebih baik dari tahun lalu,” ujar Menteri Keuangan Agus Darmawan Wintarto Martowardojo di Jakarta, Selasa (5/7/2011).

Menurut Agus, meskipun defisit APBN membengkak, pihaknya tidak berniat menambah utang. Defisit justru akan ditutup dengan mengambil uang tabungan pemerintah atau yang disebut Sisa Anggaran Lebih (SAL).

“Prognosis APBN semester II akan menunjukkan defisit Rp 187,9 triliun sehingga APBN Perubahan 2011 diperkirakan akan menunjukkan defisit anggaran Rp 151,1 triliun atau 2,1 persen,” ujarnya.

Total SAL yang akan digunakan untuk menutup defisit adalah Rp 39,1 triliun. Itu dimungkinkan karena hingga akhir tahun 2010 nilai SAL masih tercatat Rp 98,909 triliun.

SAL tersebut berasal dari penjumlahan SAL hingga akhir tahun 2009 senilai Rp 6,523 triliun, ditambah Sisa Lebih Penggunaan Anggaran (Silpa) Rp 44,7 triliun; ditambah selisih kas lebih tahun 2009 senilai Rp 261,781 miliar; ditambah koreksi atas SAL dan Silpa Rp 4,765 triliun.

Seluruhnya itu kemudian dikurangi SAL yang sudah digunakan selama tahun 2010 sebesar Rp 17,347 triliun sehingga total SAL yang tersisa per 1 Januari 2011 adalah Rp 98,9 triliun.

View the original article here

Advertisements
  • Calendar

    • October 2017
      M T W T F S S
      « Jul    
       1
      2345678
      9101112131415
      16171819202122
      23242526272829
      3031  
  • Search